Sunday, 13 February 2011

Catatan Pengabdian Seorang Relawan

Banyak yang mengartikan kata relawan yaitu rela tidak melawan, rela waktu dan tenaganya terkuras, pikiran terpecah dan bahkan mengikhlaskan sebagian dari hartnya untuk digunakan dalam kegiatan social. Dengan prinsip mengabdi sebagai tanggung jawab social kepada masyarakat seorang relawan yang ideal menyatu dengan masyarakat, merasakan apa yang selama ini menjadi kegelisahan, memecahkan permasalahan kemasyarakatan, menyuntikkan vitamin kehidupan bertenggang rasa serta menyalurkan ide-ide brillian guna mendorong kehidupan yang produktif dan berkualitas.

Sebagai Agent of change sudah sepatutnya sebagai mahasiswa memikirkan dan mencurahkan sebagian tenaganya untuk masyarakat di area yang tidak terjamah oleh derasnya arus pembangunan dan kemajuan dalam berbagai bidang. Hal ini mungkin bisa disebabkan oleh nepotismenya kekuasaan, piciknya kemajuan teknologi, kemunafikan pemerataan pendidikan dan yang paling besar adalah keserakahan kepemimpinan. Semoga penulis dan pembaca dijauhkan dari kerasnya hati yang membuat kita tidak peka terhadap penderitaan yang meraung-raung dan merindukan iba para pemimpin dan juga semoga kita selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan karena sungguh siapapun anda, apapun profesi anda, ada nikmat Allah yang melekat yang tak mampu kita balas walaupun dengan ibadah beribu tahun lamanya.

Bakti social yang diadakan di desa Burlah kecamatan Ketol kabupaten Aceh tengah cukup menyisakan banyak catatan penting yang menjadi hikmah dan introspeksi kita bersama. Kami para relawan mengabdi selama 10 hari di desa tersebut, membaur dengan masyarakat yang hampir tidak memiliki target kehidupan di masa yang akan datang, hanya memikirkan isi perut hari ini, menjalani hari esok seperti hari-hari biasa, tanpa ada gebrakan dan usaha untuk keluar dari system.

Burlah memiliki arti “tengah-tengah”, yang maknanya desa yang diapit oleh bukit atau berada di antara 2 desa yang lainnya. Kebanyakan masyarakat di desa ini berprofesi petani, karena memang demografi desa burlah dipenuhi dengan bukit-bukit sehingga bagus untuk bercocok tanam. Pada pagi hari para kepala keluarga bahkan seluruh anggota keluarga bergegas menuju kebun untuk merawat dan memetik hasil perkebunan, jika sore telah menjelang mereka baru kembali ke kediaman masing-masing, bahkan ada salah seorang masyarakat yang kami temui sudah satu minggu berada di kebun yang jauh dari rumahnya. Biasanya pada hari jumat kebanyakan masyarakat tidak berkebun, mereka biasanya membersihkan rumah, memperhatikan keluarga, pengajian serta beribadah bersama-sama di mesjid. Jika malam telah menjelang, suasana desa ini begitu sepi dan sunyi, memang ada beberapa rumah yang memiliki televisi namun pada jam 10 keatas rata-rata masyarakat sudah terlelap, sangat jarang adanya kehidupan malam atau ada yang begadang, mereka betul-betul memanfaatkan gelapnya malam untuk beristirahat.

Masyarkat Burlah tidak menjadikan pendidikan sebagai satu aspek yang urgen bagi anak-anak mereka, tingkat sekolah yang paling tinggi yang mereka raih hanya sampai SMA, kebanyakan dari mereka hanya sampai SMP, kemudian menikah, berkeluarga, bercocok tanam begitulah seterusnya. Memang dari proses kehidupan masyarakat Burlah ada sisi negative dan positivenya. Hal yang patut di tiru adalah kegigihan dan kerja keras, lihatlah bagaimana mereka konsisten dalam bertani stiap harinya mulai pagi hingga sore harinya. Tubuh mereka selalu mengeluarkan keringat sehingga jauh dari penyakit kolesterol. Tidak meleknya mereka terhadap teknologi membuat kehidupan masyakat yang bersosial tinggi. Tidak seperti kehidupan di kota yang mulai individualis dan materialis.

Memang sisi negativenya lebih besar, yaitu karena pendidikan mereka tidak memadai membuat masyarakat terbelakang sehingga mereka tidak tahu bagaimana caranya menagih hak serta ikut dalam proses politik yang sehat, kurang masuknya informasi membuat mereka tidak mengenal dunia luar dan enggan untuk berubah, dan yang paling penting karena pengetahuan agama yang minim membuat suasana kampung yang tidak hidup, gersang akan nuansa rohani dan membuat anak-anak tidak tahu arti hidup dan makna beribadah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Kedatangan kami para relawan menyuntikkan vitamin untuk mengembalikan proses kehidupan perkampungan yang selama ini di dambakan walaupun apa yang kami perbuat tidak maksimal dan jauh dari kesempurnaan, setidaknya ada perbedaan dan hal-hal baru yang kami berikan. Mulai dari divisi Pendidikan yang menjadikan murid SD sebagai sasaran pengabdian, membuat pustaka kampong serta mengajari dan memotivasi murid dengan metode-metode yang menyenangkan. Divisi mental dan spiritual focus untuk menghidupkan nuansa rohani mulai dari menghidupkan mesjid, mengajar anak-anak TPA dan mengadakan pelatihan serta perlombaan keagamaan. Divisi kesehatan mencakup smua sasaran masyarakat dengan program penyuluhan, pelatihan dan pengobatan massalnya. Divisi social masyarkat mencoba menghidupkan perangkat kampong, olahraga serta pelatihan-pelatihan yang bermanfaat. Menariknya divisi pertanian karena membagikan serta menanam pohon disekitar perkampungan juga penyuluhan dan pelatihan pupuk serta hasil pertanian. Bukti kerja yang nyata dapat dilihat dari divisi insfrastruktur, karena kami mengecat mesjid, memperbaiki MCK serta memberikan nama lorong. Memang ada beberapa program dadakan yang terfikirkan oleh relawan serta ada juga beberapa program yang tidak terlaksana disebabkan tidak mendukungnya sarana dan prasarana.

Sebagai relawan yang budiman proses pembelajaran harus terus dilakukan, kami belajar bagaimana menyatu dengan alam yang menjadikan sungai sebagai tumpuan. Baik untuk konsumsi sampai dengan MCK. Lelahnya dalam bekerja terbayarkan dengan cerianya masyarakat serta tawanya anak-anak. Refleksi kehidupan perkampungan dengan minimnya peralatan bahkan komunikasi yang terputus membuat kami sadar akan bahagianya kehidupan kami selama ini. Seharusnya kami lebih bersyukur dan lebih berusaha tanpa harus mengeluh akan penatnya pikiran. Semoga kita semua dapat terus mengupgrade diri dan tetap istiqamah serta memaksimalkan potensi yang ada guna berbuat dan memberikan yang terbaik dan menjadi pribadi yang budiman.

Monday, 6 September 2010

It's unpredictable, unexpected and unreliable

Seperti biasa, ketika pagi sudah menjelang, pancaran sinar matahari sudah menyengat, langsung ku ayunkan langkah menuju kantor tempat aku magang. Tak terasa sudah 45 hari aku menjalani kehidupan di negeri mata sipit, banyak yang dilalui dan banyak pula yang ingin diceritakan.

Hari ini ada perasaan yang sebenarnya tak ingin aku alami. Namun, mau tidak mau karena kawanku menciptakan perasaan itu di FB ku. Kawanku menyebutnya Bang Thoyib, si ayah yang tak pulang-pulang walaupun sudah 3 kali puasa dan lebaran. Perasaan sedihnya merayakan lebaran di kampung orang. Sebenarnya bukan hal yang sangat besar ataupun permasalahan yang begitu menghadang, mungkin karena hanya naluri seorang anak yang selalu merayakan lebaran di kampung dengan menyantap lontong, peyek dan beberapa makanan khas lainnya yang segaja dibuat ibuku khusus di setiap lebaran. Sampai-sampai kue lebaran yang seharusnya disuguhkan kepada tamu-tamu yang ingin bersilaturrahmi, stiap pagi petang dan malam aku dan abangku habiskan sambil nonton tv di hari lebaran. Perasaan inilah yang membuat diriku di pagi ini terasa sangat berat untuk berinteraksi dengan Mediawiki atau terminal di komputerku, jari ini terus menetap di halaman Facebook melihat komen2 atau berita-berita yang kadang tak penting serta sambil mendengarkan lagu di hpku.

Rasanya tidak percaya, tak terduga dan tak terkira menghabiskan lebaran di kampung orang, lebih parah lagi kalau lebaran tahun ini hari kamis, wah... bisa-bisa lebaran di kantor bersama terminal dan mediawiki, sudo apt-get.. ls..cd.. clear.. exit.. ssh.. svn... itulah semua kawan-kawan lebaranku. Tapi mungkin aku akan meminta izin kepada Mr. Marr untuk tidak masuk kantor atau masuk telat karena harus ke mesjid pagi-pagi. Ya Allah mudahkanlah..

Tapi setelah jam istirahat tiba, setelah diri ini menunaikan ibadah zuhur serta setelah berchatting ria, semangat itu muncul kembali, langsung aku tuliskan kisah ini sebagai pelega hati dan menyalurkan hobby. Ketikan jari ini pun dibarengi senyum merekah di pipi, terlintas dipikiranku tugas-tugas yang belum terselesaikan, kuliah yang sudah berjalan, serta mimpi yang belum terselesaikan, aku siap berdiri untuk tantangan selanjutnya. Semoga Allah menyiapkan diri ini untuk menjadi orang yang besar, yang siap berdiri tegar menyapu stiap tantangan kecil maupun besar.

Wahai hati tegarlah berdiri, ikhlaskan niat beribadah kepada Ilahi,

wahai iman kokohkan pondasi, jaga diri ini dari nikmat sesat duniawi

wahai pikiran positifkan diri, jangan buruk sangka sibuklah perbaiki diri...

Wednesday, 1 September 2010

Tidak harus..

Tidak semua manusia sanggup untuk menjalani semua tantangan yang ada, bahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Sayangnya banyak dari kita yang berambisius untuk mencapai tujuan tertentu namun tidak sanggup untuk melewati tantangan yang menghadang.

Kisah singkat yang aku baca di facebook menceritakan bahwa ada seorang mahasiswi yang melanjutkan studi ke luar negeri yang jauh dari tanah airnya, benua eropa. namun karena negeri tersebut mempunyai adat dan gaya yang berbeda dengan negeri asalnya, kewajiban yang ia jalani selama ini pun terasa susah untuk dijalankan. Mahasiswi muslim yang berjelbab ini merasa susah untuk menutupi kepalanya ketika sedang berjalan di tengah kota di eropa, apalagi kalau musim panas. “masak panas-panas gini pake baju serba tertutup” begitulah mungkin kira-kira komentar penduduk eropa yang membuat mahasiswi ini berubah pikirannya untuk memakai selendang saja atau bahkan tidak memakai penutup kepala.

Jika hanya untuk mimpi dunia semata, atau biar dipandang terpelajar, keren, wah oleh orang sekeliling kita karena melanjutkan studi ke luar negeri dan akibatnya harus melepaskan idealisme bahkan menggadaikan agama, semuanya menjadi hal yang tidak berguna. Paling cuman hanya 5 tahun belajar di luar negeri kemudian kembali lagi, atau bahkan menetap selama 30 tahun kemudian pasti meninggal. Dan semuanya harus dipertanggung jawabkan.

Juga tidak harus kita mengalami penderitaan yang begitu berat, yang sebenarnya tak sanggup untuk dijalani, namun dengan tujuan menunjukkan ketegaran sehingga penderitaanpun dijalani dengan muka tersenyum tapi hati menangis teriris, sampai-sampai kesehatanpun terabaikan. Padahal tak ada tawar-menawar dalam hal agama, prinsip dan kesehatan. Semuanya menjadi identitas kepribadian.

Pernah dosen kawanku di jogja curhat kepada muridnya, “saya mengambil pendidikan di UGM sampai S3, ngapain jauh-jauh keluar negeri, nyaman sekali tinggal di jogja ini”. Sampai-sampai kawanku berkeinginan kembali ke jogja walaupun kampungnya di palembang, karena memang sangat nyaman, penduduk yang ramah, makanan yang sedap pokoknya zona nyamanlah. Bukankah itu lebih baik daripada harus bersusah-susah banting stir ke negeri orang.

Namun, ada satu pesan yang menggugah dari dosenku “lebih bagus kita keluar dari comfort zone, sehingga potensi kita akan meledak dan pengetahuan kita akan lebih luas”, bagi yang suka tantangan dan tidak menginginkan hidup biasa-biasa saja, mari berpetualang. Namun kalau memang batin dan raga ini tidak siap, jangan sungkan-sungkan untuk mundur, karena “ketika satu pintu tertutup, maka akan ada 1000 pintu lainnya yang akan dibukakan, sayangnya kita terpaku pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu yang dibukakan untuk kita “ Keep Struggle Bro..

Monday, 23 August 2010

Catatan Aktivis muda Indonesia

Banyak yang mengatakan, menjelaskan dan meyakinkan bahwa menjadi aktifis sangat banyak manfaatnya bahkan semua dosen di fakultasku mulai dari dekan sampai ketua jurusan merekomendasikan untuk menjadi aktifis.
Setelah menjalani 3 tahun menjadi organisator yaitu tempat bernaungnya aktifis, terlalu banyak pendidikan yang diberikan dan hikmah yang didapat. Sebagianya telah tertulis pada artikel sebelumnya. Melalui tulisan ini, diri ini hanya ingin memberikan saran yang bermanfaat kepada pembaca sekalian, khususnya bagi adik-adikku yang sedang menempa dirinya di organisasi atau kepada mahasiswa baru yang sebentar lagi akan masuk ke dalam sarangnya akademisi.
Menjadi pribadi, mahasiswa atau aktifis hendaknya memiliki criteria berikut :
Pertama, Iman dan Taqwa. Imtaq ini lah yang menjadi identitas kita, warna kita dan kepribadian kita yang utuh. Pengalamanku sudah membuktikan bahwa semua orang menghargai keimanan yang kita pegang, pada saat di jepang, profku mengizinkan kami untuk permisi untuk shalat di mesjid sekitar kampus, bahkan ia menyediakan kepada kami sebuah tempat untuk masak dan berbuka puasa, karena pada saat itu ramadhan sedang menjelang. Sekarang juga, para peneliti di Academia Sinica juga respect terhadap ibadah yang kami lakukan. Mereka menyediakan tempat untuk shalat, kemarin tempat shalatku diganti ke pustaka karena mereka mengira pustaka lebih nyaman untuk shalat dibandingkan tempat yang lain. Tapi tadi aku meminta agar kami bisa shalat di lantai 6 karena tempatnya lebih nyaman karena di ujung dan mereka menyetujuinya serta memberitahukan kepada professor yang ada di lantai 6 bahwa kami akan shalat 2 kali di tempat tersebut.
Salah satu dosen favoritku di jurusan fisika pernah bercerita saat aku melapor bahwa kami akan ke Taiwan untuk magang. “sewaktu saya di itali, saya minta izin ke professor saya untuk shalat jum’at di roma, karena jarak roma ke kantor saya jauh, jadi saya sampaikan ke prof saya bahwa pada hari jum’at saya hanya bisa masuk kantor ½ hari, jika anda memerlukan saya maka saya akan masuk kantor pada hari sabtu” hanya itu yang disampaikan dosenku kepada profnya, dan profnya setuju, hasilnya sekarang dosen ku ditawarkan postdoc lagi ke perancis, sesuatu yang patut di tiru.
Memang kita harus membaur kepada siapapun, tetapi ingat membaur bukan berarti melebur, warna kita harus tetap jelas walaupun di kelilingi orang-orang dengan berbagai macam kepercayaan atau bahkan tidak memiliki sama sekali.

Kedua, English. Sesuatu yang sangat sering diucapkan oleh anak-anak kampus. Walaupun ada yang menyatakan bahasa arab lebih banyak manfaat. Memang betul, bahasa arab adalah ibunya segala bahasa. Tapi posisi kita sekarang dibawah kawan-kawan kita, dosen saya banyak yang berkata “we have to be educated people”. Negeri kita belum maju dalam hal ilmu pengetahuan apalagi science, tugas kita untuk membangunnya dengan menjembatani ketimpangan yang terjadi dan itu harus kita lakukan dengan meningkatkan potensi diri salah satunya kecakapan bahasa.
Bahasa juga menjadi alat untuk survive, di Negara dengan semua penduduknya menggunakan bahasa cina seperti Taiwan, sangat susah bertahan tanpa bahasa inggris. Mr. Marr pernah berpesan, jika aku tersesat maka bertanyalah kepada remaja yang ada, karena kebanyakan dari mereka bisa berbahasa inggris.

Ketiga, skills. Inilah yang menjadi modal kita agar dilirik oleh orang lain. Skill inilah yang akan kita kembangkan di negeri orang tapi tentunya kita telah memiliki kemampuan dasar. Ketua jurusanku menyebutkan skill ini adalah computer karena benda tersebutlah yang perkembanganya begitu pesat.

Thursday, 22 January 2009

This is Islam

In dedication to the innocent victims of cowardice

People of the world

Do you know the truth about Islam

Or do you think it’s about bombing plane and killing innocent people

Forget about the lies

I’m here to tell you how it really is

You deserve to know the truth about this beautiful way or life

People of the world

Islam is all about peace

Terrorism its doesn’t teach

It’s about love, and family and charity and praying to one god

THIS IS ISLAM…

It’s something you should know

I know it’s really helped me grow

It does away with greed, filth, arrogance

And teaches us morality

A perfect way to live

So don’t believe all you see and hear

Too many people wear a title of a Moslem but they don’t practice Islam

And it teaches us the Creator’s made this life for us a test

And if we follow truth and do good deeds, he will reward us in the next

If we remember God and teach each other the truth and patience in His way

Together we can leave, IN PEACE

This is Islam

Allahu Akbar, God is the greatest !!!

It begun from a Journal

“Congratulation for our sister, she will go to Japan for international student exchange this month for one year”
One day, I read this sentence in a journal in my campus. I was so anxious to find out about her, how she could get the scholarship. I thought that she is still second year student. At that time I was just entered the campus, I was adapting with new environment, but before I entered the campus I have my own dream to going abroad especially country that have winter season .

I wish that I can join the program like her joined. That was a sentence that always in my head. I said to myself she could got the scholarship even she was still in second year, can I get the scholarship like she did? I have to increase my ability in English and find out every information about scholarship or student exchange.
After that I met a sister in a class, she still in second year student. At that time the lecture didn’t came because of bad weather, it was rain. I ask to my sister about the student that got scholarship to continue her study in Japan. Where she got the scholarship? Is she a second year student ? she told me that the student is last year student and every year our campus sent a student to continue his/her study in Japan. In that year she was the lucky student.
Then, my passion to go abroad bigger than before, as she told me that every year there will be a student will go to Japan, at that time I hope I got the scholarship and be the lucky student. I was improving my English while searching the information and never forget praying. Every week wasn’t complete if I wasn’t go to search the information in every journal or announcement board. I also opened my lectures file or identity to find out where he/she graduated and how he/she got the scholarship, not only that but also I always tried to attended if there was a professor gave a speech in a mosque.
Now, I realize that if you are really want something you will get it with good effort and pray. I remember a sentence “jika anda sungguh-sungguh menginginkan bulan maka bulan akan datang kepada anda” it mean if you really want go to moon so the moon will go to you.
When I was in second semester, the dream came true. I read information about student exchange to Fukui, Japan and I saw my friend hold the detail information. I just ask and copied the information. I talked to my mother, she agreed and very happy if I pass the interview.

After that, I submitted the form and followed the interview. In the next week, in Friday my friend ran and scream, she said “ I will go to Japan, I will go abroad I passed the interview”. I looked blank and there were a big question in my mind, “how about me ? I passed it too?” my friends said that you passed it too and another student, we will go to Japan this September, I didn’t believe it, I went to my department and asked who passed the interview and will go to japan ? my lecture said that you and 2 other student will go to Japan.
“Alhamdulillah, I will go to Japan” I said to myself. I realize that my dream came true, in past time I was anxious about my sister that went to Japan even she was second year student, but then I knew she is last year student. And now I made I own history I go to japan even I’m second year student. Something that I didn’t believe before. I didn’t stop to say thank you Allah…

Berbagi pengalaman tentang mimpi yang terwujudkan

Fukui prefecture adalah sebuah provinsi di jepang. Suhu maksimal di kota ini sekitar 32oC sedangkan suhu terendah sekitar 0o C. Semua orang hidup dalam kebahagiaan dan kenyamanan. Kota yang bersih dan rapi ini didukung oleh penduduk yang ramah dan bersahabat. Tak peduli orang asing atau bukan mereka selalu membalas sapa dengan senyuman.
Tepatnya pada tanggal 18 september 2008 kami 10 mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syah Kuala bersama dua dosen pendamping tiba di bandara Kansai, Osaka untuk mengikuti workshop di bidang mathematics dan science education selama 11 hari.

Selama perjalanan menuju kota fukui, bus yang kami tumpangi sempat berhenti di beberapa tempat yaitu di I-setan dimana sebuah pusat perbelanjaan yang berada di gedung tinggi menjulang. Pada lantai teratas gedung ini terdapat pemandangan yang eksotis, dimana seluruh kota Kyoto tampak begitu indah. Ketakjuban tersebut ditambah dengan adanya Kyoto Tower yang berdiri tepat di depan gedung I-Setan. Dengan tidak meyia-nyiakan waktu setiap mahasiswa sibuk memainkan kamera pribadinya guna mencari dan memotret gambar terbaik.
Perbenhentian kedua yaitu Kiyomizu temple. Sebuah objek wisata yang ramai dikunjungi oleh masyarakat. Tempat ini merupakan tempat dimana orang jepang biasa berdoa dan memuja Tuhannya. Masyarakat yang datang ke tempat ini mempunyai beragam tujuan, mereka terdiri dari berbagai macam profesi, ada yang masih pelajar ,pegawai kantoran , mahasiswa, sampai turis asing. Umumnya para pengunjung hanya datang melihat-lihat dan berbelanja, karena sepanjang perjalan menuju tempat ini terdapat berbagai macam souvenir. Hanya sedikit dari pengunjung yang berdoa dan memuja Tuhannya. Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu setengah jam untuk berbelanja dan memotret kami kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan.
Berhubung dalam suasana Ramadhan, pihak panitia membeikan suatu tempat khusus yaitu Makishima-so (Guest House) uuntuk menyiapkan makanan buka puasa serta untuk sahur. Setiap sore hari kami memasak di tempat tersebut sedangkan untuk bahannya dibeli di swalayan serta mesjid yang berada tak jauh dari kampus.
Hari pertama di kampus diisi dengan upacara pembukaan. Pada saat upacara pembukaan yang dihadiri oleh Dekan Fakultas Educatioan And Regional Studies University of Fukui serta wakil presiden Japan Student Service Organization (JASSO) dan koordinator program ini yaitu Prof. K.Kagawa Para mahasiswa berkesempatan untuk memperkenalkan diri di hadapan para hadirin, menyampaikan rasa senang serta berterima kasih atas undangan ke Jepang. Setelah acara pembukaan selesai salah satu stasiun televisi yang ada di Jepang datang untuk mewawancara para mahasiswa. Siangnya dilanjutkan dengan pertemuan dengan presiden University of Fukui. Kesempatan yang langka dapat berjumpa dengan orang tertinggi di kampus tersebut.
Workshop ini khusus diadakan demi meningkatkan mutu pendidikan di aceh yang telah dilanda musibah gempa dan tsunami. Workshop mengajarkan bagaimana cara mengajar kepada siswa dengan metode yang mudah dimengerti dan menggunakan alat yang murah dan mudah didapat. Metode ini telah dipraktekkan di Jepang dan telah diadakan untuk berbagai Negara.

Workshop fisika memakan waktu selama 3 hari penuh dimana semua peserta mengikuti workshop tersebut. Materi yang diajarkan berkisar tentang mekanik, optic, elektrostatis dan elektromagnetik. Kami juga membuat beberapa alat demonstrasi seperti kamera, water prism dan leaf meter. Semua alat tersebut dibuat dengan mudah dan menggunakan bahan yang murah. Selama tiga hari tersebut kami dipandu oleh seorang guru senior yaitu Prof. Kagawa di bantu oleh beberapa staf. Prof. Kagawa juga menyusun materi-materi yang diajarkan selama workshop sekaligus mengkoordinir semua program yang kami ikuti selama berada di Fukui.
Workshop matematika berisi tentang sejarah pendidikan matematika di jepang, membuat seruling dengan menggunakan prinsip matematika, serta menjawab beberapa teka-teki yang menantang. Tak lupa pula diajarkan tentang software R dan Maxima. Ada beberapa guru yang memandu selama workshop matematika yaitu Pro. Saburi, Prof. Sakura, Prof. Irei, serta Prof. Chieko.
Setelah semua workshop selesai, dilanjutkan dengan diskusi tentang presentasi keadaan pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam serta penanganannya. Empat orang mahasiswa tampil untuk mewakili jurusannya masing-masing dalam mempresentasikan keadaan pendidikan di Aceh. Banyak sekali kekurangan pada sistem pendidikan di Indonesia. Mulai dari kurikulum yang tidak bersahabat, gedung yang tidak mencukupi, perlengkapan praktikum yang tidak memadai sampai dengan kemampuan guru yang terbatas.
Pada saat kunjungan ke SMP dan SMA di Fukui, kami mendapati perbedaan yang sangat jauh dengan pendidikan di Aceh Khususnya. Mulai dari gedung yang kokoh membuat murid-murid semangat untuk belajar, tidak ada istilah sekolah sore dan sekolah pagi karena kekurangan ruang belajar. Fasilitas yang mencukupi membuat pemahaman konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan lebih megakar di pikiran para murid, tidak hanya belajar teori tetapi langsung mempraktikkannya. Dan yang paling penting adalah kurikulum yang disusun sedemikian rupa sehingga membuat siswa tidak bosan mempelajarinya dengan tidak meninggalkan inti sari dari ilmu tersebut.
Setelah semua kegiatan inti selesai, pada hari-hari terakhir kegiatan diisi dengan kunjungan ke museum dinasaourus kedua terbesar di dunia, yaitu Fukui Prefectural Dinosaur Museum. Fosil-fosil binatang yang hidup ribuan tahun lalu tersebut terpajang berikut dengan keterangan tempat penemuan serta perkiraan hidup hewan tersebut. Tak luput pula salah satu tempat wisata yang paling terkenal yaitu Tojinbo cliff, yang merupakan sebuah tebing di tepi laut yang biasa diginakan untuk bunuh diri.
Demikianlah laporan kegiatan yang kami lalui selama kurang lebih 11 hari, semoga apa yang tertulis merupakan catatan penting bagi kami sendiri dan kepada pembaca semoga dapat diambil hikmahnya dan yang terpenting adalah semua orang dapat melakukan perjalanan seperti kami lalui yang dibutuhkan hanyalah mimpi serta tekad yang bulat.